Sumber foto : Dokumen pribadi

Kurang lebih sepekan yang lalu, aku dan temanku memberanikan diri pergi ke Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat dengan menggunakan motor. Sebenarnya bisa saja menaiki KRL Commuter Line tapi lama perjalanan menghabiskan waktu 2 jam, sedangkan kalau motor hanya menghabiskan waktu 1 jam saja.

Dengan modal bensin RP15.000,- kami pun berangkat. “Bismillah,” kataku sambil menyalakan motor dan ngegas perlahan.

Pergi ke Jakarta Convention Center dengan menggunakan motor memang bukanlah perjalanan terjauhku. Sebelumnya aku pernah berkendara dari wilayah terpencil di Bogor hingga Depok.  Jarak yang aku tempuh sekitar 3 jam, yang otomatis selama itu aku terus berkendara dengan menggunakan motor. Padahal, saat itu aku sudah melaju dengan kecepatan 60km/jam – 80km/jam.

Selain mengandalkan bensin, kami juga mengandalkan google maps. Entah, mengapa kami senekat itu. Yang pasti perjalanan yang diperkirakan lancar justru penuh dengan kelokan.

Beberapa kali temanku panik, ia bingung harus memutuskan arah jalan mana yang benar karena tiba-tiba google maps yang ia gunakan eror dan secara otomatis letak keberadaan kami pun terhenti. “Nit, ini gimana? kita pake jalan yang mana?” sambil menyodorkan smartphone-nya ke arah depanku yang sedang menyetir. Jujur, itu bahaya. Tapi mau gimana lagi (?)

Beberapa arah jalan akhirnya dapat kami atasi dengan baik, tapi ada juga beberapa arah jalan yang aku putuskan sendiri, alhasil kami pun salah jalan. Anehnya, setiap salah jalan kami malah ketawa-tawa, menertawakan keputusan konyol yang kami buat sendiri.

Tibalah kami pada suatu wilayah, tetap di kawasan Jakarta juga, terdapat dua cabang di depan kami. Kami bingung harus memilih cabang jalan arah kanan atau arah kiri, keputusan kami semakin diperparah dengan erornya kembali google maps.

Tanpa berpikir panjang, aku memilih jalur kanan. Ngga lama berjalan, di depan sudah ada penjaga lalu lintas yang tiba-tiba memberhentikan motor kami. “Stop. Mba tau ngga ini kawasan apa? tanya petugas tersebut kepada kami, “Ngga tau Pak, emang ini kawasan apa? tanyaku balik, “Ini kawasan khusus roda empat Mba. Keluarkan SIM, ikut saya ke pos.”

Demi apa pun, aku panik banget. Apalagi, pajak STNK aku mati dan belum diperpanjang. Aku takut kalau ditilang karena aku ngga punya uang untuk menebusnya di Kejaksaan. Maklumlah kejadiannya di akhir bulan.

Tempat posnya berukuran kecil dan berbentuk seperti tabung. Kami pun memasuki pos tersebut. “Kamu saya tilang ya karena memasuki kawasan roda empat. Nanti kamu akan dikenakan biaya 500 ribu kalau di Kejaksaan. Tapi kalau mau beres, bisa 50 ribu aja.” kata petugas tersebut sambil duduk dengan wajah tenang.

Dalam hati, “Enak aja. Lu mau kibulin gue? ngga bisa.”

Seketika aku inget dengan pembelajaran Bahasa Indonesia saat duduk di bangku SMA, dalam buku tersebut menceritakan mengenai petugas lalu lintas yang melakukan pungli. Jika menemukan petugas yang mecurigakan, bisa langsung ditanyakan namanya siapa dan jabatannya apa. Kalau perlu tantangin aja untuk menebus di Kejaksaan.

“Maaf, nama Bapak siapa ya?” tanyaku, “Ah, ngga usah, nanti di Kejaksaan ada nama saya,” jawab petugas tersebut, “Jabatan Bapak sebagai apa?” tanyaku kembali, “Nanti juga kamu tau jabatan saya pas di Kejaksaan sana. Jadi ini gimana? kalau mau di sini 50 ribu aja” jawab petugas tersebut sambil mengalihkan pembicaraan.

Wajah temanku sangat panik. Ia pun sudah mengeluarkan uang Rp50.000,- aku tahan dia untuk ngga memberikan secara percuma.

“Kamu kuliah? Ngambil jurusan apa?” tanya petugas itu padaku. Ini kesempatanku untuk mengeluarkan senjata pamungkas, “Iya saya kuliah di Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Jurnalistik/Wartawan.”

Sekita petugas itu diam seribu bahasa. Bola matanya mulai melirik ke kiri yang mengartikan ia sedang berpikir sesuatu. “Oh, temannya anak saya juga ada yang berkuliah di situ. Yaudah, kalian jalan aja lagi,” kata petugas itu sambil menyuruh kami pergi. “Ini uangnya ngga jadi Pak?” tanyaku dengan wajah pura-pura polos, “Udah ngga usah, kalian mah sama aja kayak teman anak saya. Sekarang kalian jalan aja, nanti di ujung sana belok kiri, lurus terus itu udah arah JCC.”

Setelah kejadian itu, aku dan temanku ketawa sepanjang jalan. Hahahaha...

Atas petunjuk jalan yang diberikan oleh petugas lalu lintas nakal tersebut akhirnya kami pun sampai di JCC dengan selamat. 

Terima kasih Bapak, semoga kejadian tadi dapat menyadarkan Anda bahwa sepandai-pandainya bangke dikubur pasti akan tercium juga baunya. Jangan nakal lagi ya pak, walaupun atasan bapak ngga tau, tapi ada Allah yang selalu memantau bapak disetiap detiknya.