Doc.Pribadi
Pagi
itu aku mendapat telepon dari seseorang, tak sedikitpun aku menaruh curiga atau
apapun padanya. Aku angkat telepon itu. Aku dan dia bercakap mulai dari
menanyakan kabar hingga masuk pembahasan yang membuatku bergeming.
Seketika
aku terbesit rencana yang telah aku buat untuk satu bulan ke depan bahkan
hingga akhir tahun ini. Aku mulai cemas yang dihantui bayang-bayang tugas serta
kegiatanku yang menumpuk itu. Mulai detik itu juga aku semakin ngga percaya
diri dalam menjalankan rencana yang telah kubuat sebelumnya.
Aku
menarik napas dalam-dalam, lalu melihat foto keluargaku yang terpasang pada
dinding ruang tamu. Masih terukir jelas senyum mereka pada foto tersebut.
Pandanganku langsung tertuju pada Mama yang sedang tiduran di kamar sambil
memakai selimut. Kondisi Mama saat itu memang lagi kurang sehat. Rasanya, aku
tidak ingin Mama mendengar percakapan tadi, tapi apa boleh buat ia telah
mendengarnya.
Terjadilah
percakapan antara aku dan Mama, ia merasa khawatir dengan kondisiku. Aku
menguatkan bahwa semua akan baik-baik saja. Meskipun hati dan pikiranku sedang
tidak karuan.
Sejak
saat itu hari-hariku penuh dengan pertimbangan, yang tadinya dianggap sudah
selesai, tapi ternyata belum selesai sepenuhnya. Telepon dari seseorang itu
mampu mengubah pemikiran dan perencanaanku dalam jangka panjang.
Kini,
aku berada dalam dua pilihan yang membingungkan. Bingung harus memilih
keputusan yang mana.
Aku
berbisik lirih pada kehingan, “Aku bisa melewatinya, insyaallah.”
Tapi
aku berharap, keputusan apapun itu yang aku pilih nanti, mohon untuk diterima
dengan setulus hati. Aku tahu diusia kita sekarang ini bukanlah lagi masa anak
remaja, melainkan masa menjelang kedewasaan. Aku harap kalian mengerti. Terima kasih.
0 Komentar