Aku Bicara Tentang Covid-19

                                                          
"Di rumah aja," begitulah perintah orang-orang di sekitarku atas kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, baik daerah yang diatur oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan maupun pusat oleh Presiden Joko Widodo berserta jajarannya.

Ya, saat ini seluruh dunia sedang berduka hebat. Mereka menangisi kepergian satu per satu sanak saudaranya akibat virus mematikan Covid-19. Virus itu menyebar dengan cepat dari Wuhan sebuah kota di China hingga menyentuh hampir seluruh dunia.

Dampaknya, baru kali ini aku merasakan liburan panjang terlama selama masa pendidikan dari SD hingga kuliah. Mau bagaimana lagi? semua orang di dunia saat ini sedang mengalami masa karantina di rumah masing-masing. Tadinya cuma 14 hari saja kebijkan itu diberlakukan. Tapi malah berlanjut hingga berbulan-bulan. 

Di Indonesia batasnya hanya sampai bulan Mei saja, itu juga kalau ada penuruan angka korban Covid-19. Kalau tidak ada mungkin bisa lebih lama lagi ada di dalam rumah.

Bosan? tentu. Aku sangat bosan berada di rumah. Aku rindu bertemu dengan teman-teman di kampus, dosen, helper, maupun bertegur sapa dengan orang baru. Aku sangat merindukan itu. Meski serindu apapun aku dengan dunia luar, tetap saja aku gak boleh egois.

Sebab kalau banyak orang keluar rumah maka akan semakin cepat penyebaran, dan korban yang berjatuhan akan semakin banyak. Bisa jadi orang tersayang kita yang menjadi korbannya. Betapa mengerikannya virus itu merenggut jiwa yang tak bersalah menghadap ke Pangkuan Tuhan.

Tapi ada kebanggan di dalam diri karena nanti 5 tahun bahkan 10 tahun lagi kasus ini akan menjadi sejarah tak terlupakan untuk Indonesia maupun dunia, dan aku menjadi saksi sejarah atas ganasnya virus mematikan itu. Jika aku menikah dan mempunyai anak, aku akan bilang, "Ibu merasakan dahsyatnya dampak yang terjadi akibat Covid-19, tapi kamu gak usah sedih maupun takut. Karena dibalik semua itu ada banyak positifnya."

Positifnya bumi menjadi lebih leluasa menghirup udara segar tanpa harus sesak diantara asap kendaraan yang padat setiap saat. Bumi merasa lebih tenang atas kebisingan manusia selama ini. Selain itu, manusia menjadi semakin sadar bahwa dirinya begitu kecil dan rendah dihadapan Tuhan.

"Kecil dan rendah? maksundya apa Bu?" (mungkin anakku akan bertanya seperti itu). Kecil, manusia memang kecil dibandingkan dengan alam semesta ini. Misalnya, saat naik pesawat. Manusia sangat terlihat kecil bahkan tidak terlihat sama sekali. Artinya manusia itu benar-benar kecil dan gak ada apa-apanya.

Rendah, manusia memang seharusnya merendah kepada penciptanya. Tuhan tidak menyukai hamba-Nya yang sombong jalan di tanah ciptaan-Nya. Bukan berarti Tuhan itu sombong atau pelit. Logikanya gini, kamu mempuyai rumah lalu sengaja meminjamkan kepada seorang budak yang tidak memiliki rumah.

Tulus sekali kamu membantunya karena rasa iba di dalam hatimu. Beberapa hari kemudian, budak itu mempunyai pekerjaan dan manghasilkan uang. Kamu senang karena ia sudah mandiri dan kamu tidak mengaharapkan imbalan apapun darinya meski ia telah sukses nanti. Karena prinsipnya, kamu ikhlas dan tulus membantunya.

Lama-lama rumah yang kamu berikan itu dijadikan tempat prostitusi olehnya. Kamu marah besar dan mengusirnya dari rumah yang kamu pinjamkan itu. Kita bisa ambil pelajarannya bahwa kemarahan kamu terhadap budak itu  wajar, karena dia tidak menggunakan apa yang telah dipinjamkan untuknya dengan sebaik mungkin. Bukan berarti kamu dicap sebagai orang yang pemarah hanya saja saat itu kondisinya memang pas untuk melampiaskan kemarahan.

Artinya, Tuhan gak sombong atau pelit kepada hamba-Nya. Seharusnya seorang hamba sadar diri, apa yang telah dinikmati selama ini merupakan pemberian Tuhan Yang Maha Pemberi, termasuk tanah yang kita pijak setiap hari.

Covid-19 selain menelan banyak korban jiwa juga memberikan dampak positif kepada manusia agar selalu merasa kecil di alam semesta ini dan selalu merendah diri di hadapan Sang Maha Kuasa. Jadi, tetap di rumah ya, jangan ke mana-mana dulu :)

#Ann
12 April 2020

Posting Komentar

0 Komentar