Pesan Tak Sampai


(Foto : Google/hipwee.com)
“Payah,” katamu dengan nada yang sedikit menyindir. Aku yang saat itu berjalan tepat disampingmu hanya mampu melontarkan senyum, tanpa banyak kata, meski dalam hati aku meriuh --seakan ingin teriak-- dengan sindiran yang selalu kamu tujukan padaku.


Langkahku terhenti tepat di persimpangan Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Ya, kini aku melanjutkan pendidikan tinggi di  Politeknik Negeri Jakarta. Suatu kebanggan bisa masuk salah satu politeknik terbesar di Indonesia, lingkungan kampus yang sejuk, dan fasilitas yang memadai menjadi nilai tambah tersendiri bagi kampus ini. Tidak terasa 2 tahun lebih aku menuntut ilmu di sini, suka duka jalan perkuliahan kunikmati dengan senang hati.

“Rino,” kataku pelan.

“Kaira, ayo, lelet banget sih, ngapain kamu berhenti?” hentak Risa sambil menarik tangan kananku.
Aku masih bergeming melihat Rino yang sedang berdiri di depan Jurusan Administrasi Niaga lengkap dengan celana hitam, kemeja putih, dan almamater berwarna kuning. Rambutnya yang klimis, kumis tipis, alis tebal, dan tinggi sekitar 170 cm. Hampir membuat mata ini tak berkedip melihatnya, ini bukan soal rasa, tapi memang ada energi lain yang terdapat dalam dirinya.

Beberapa kali ia melihat jam tangannya yang berwarna hitam, seperti sedang menunggu seseorang. Aku dan Risa berjalan agak cepat melewatinya. Aku menunduk, walau kutahu ia juga melihat ke arahku, pandanganku tetap fokus pada aspal di bawah. Itu kulakukan karena ketidakmampuanku melihat wajahnya. Lagi-lagi bukan karena ada rasa, tetapi aku memang lagi enggan untuk menyapa. Belum sempat keluar sepatah kata dari mulutnya, Risa memanggil.

“Ayo Kai, kita engga ada waktu,” ucap Risa yang berjalan terlebih dahulu di depanku.

Jalanku dipercepat, sedikit menoleh ke belakang, terlihat Rino bergeming sambil menengok ke arahku dan Risa.

Risa, temanku sejak awal masuk perkuliahan sekaligus rekan satu organisasi di kampus, walau kami sering jalan bareng, tapi sehari tanpa perdebatan dengannya ibarat sayur tanpa garam. Hambar. Meski begitu, Risa selalu mengerti keadaan dan suasana hatiku. Tanpa kuucapkan ia paham dengan tanda-tanda yang aku berikan padanya. Maklum, aku pemalu dan bukan tipe orang yang suka berbicara banyak, apalagi di depan umum.

Setiap perdebatan yang ada, selalu di awali oleh Risa. Kalau aku bukan tipe orang yang suka memulai perdebatan. Boro-boro buat mulai debat, untuk memulai sebuah percakapan saja aku sangat grogi. Risa yang mempunyai perawakan lebih tinggi dari aku, sekitar 175 cm, sangat membantuku untuk mengambil barang-barang yang tidak bisa aku capai.

Pernah, aku dan Risa pergi ke perpustakaan, kebetulan saat itu aku sedang kesusahan megambil buku di rak paling  atas. Aku tidak meminta tolong pada Risa karena kutahu saat itu suasana hatinya sedang tidak baik. Tidak ingin kena semprot darinya, aku berusaha mengambil buku itu sendiri dengan menjijit.

Kurang lebih selama 3 menit aku berusaha ambil, tiba-tiba Risa datang mendekat ke arahku.

“Oh, jadi gini, kalo ke mana-mana engga usah ajak aku lagi deh,” sambil melipat tangan di depan dadanya.

“Loh, kok gitu,?” tanyaku heran.

“Kalo kamu engga bisa ambil, seenggaknya kamu minta tolong dong ke aku. Kamu takut karena hari ini moodku lagi kurang baik? yaampun Kai, engga gini caranya. Sekarang, mana buku yang ingin kamu baca? sini aku ambilin,” suara Risa sudah agak sedikit meninggi. Aku tahu di perpus tidak boleh bising, tapi itulah Risa, kalau ada sesuatu yang tidak sesuai di hatinya maka ia akan segera bertindak, salah satunya menegur aku yang sering merasa tidak enakan padanya.   

Risa memang sangat bawel kepadaku, tapi tak apa, bagiku itu tanda sayangnya dia pada sahabatnya ini.

Risa masih berjalan di depanku, hari ini ia terlihat lebih rapih dari biasanya, memakai rok span berwarna coklat susu, kemeja berwarna hitam, sepatu pantopel, dan rambut lurusnya yang terkuncir satu. Kulit kuning langsatnya pun mampu menarik perhatian bagi siapapun yang memandang. Tidak denganku yang berkulit agak coklat, tinggi badan di bawah 160 cm, dan berhidung mancung ke dalam. Beda jauh banget kalau dibandingkan dengan Risa.

Akhirnya kami sampai di depan Gedung Direktorat Politeknik Negeri Jakarta, waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB, aku dan Risa memasuki lobi gedung tersebut.

“Kai, kamu tunggu saja di sini ya, ada hal yang harus aku urus di atas. Kayaknya sih engga akan lama,” tutur Risa sambil memegang pundak kananku.

Aku mengangguk.

Risa langsung menaiki tangga yang berlantai tiga itu, entah lantai berapa yang ia tuju, aku memperhatikan setiap langkah dan ekspresi wajahnya. Tegang. “Risa tegang? ada apa?” ucapku dalam hati. Tiba-tiba perasaanku tidak enak. “Ah, sudahlah, nanti ia juga akan cerita,” kataku.

Aku duduk disebuah sofa empuk, sampai membuatku tertidur pulas.

“Kai..Kai.. bangun Kai..”

Aku membuka mata perlahan, dan melihat jam yang menunjukkan pukul 14.45.

“Astagfirullah, aku ketiduran. Eh, iya gimana urusan kamu Sa? tanyaku.

“Beres, sudah kamu engga usah mikirin itu. Sekarang ikut aku yuk!” ajak Risa dengan senyumya yang lebar membuat kedua kempotnya terlihat.

“Maaf Sa, aku engga bisa. Sore ini aku mau membantu Ibuku berjualan kue. Kan masih ada hari  esok, hehe..” jawabku tidak enakan.

Tiba-tiba senyum di wajah Risa menghilang berubah dengan raut wajah sedih. Tapi hanya sepintas saja, setelah itu ia kembali tersenyum.

Risa mengantarkanku ke parkiran depan Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, di perjalanan menuju parkiran ia mengajakku bercakap-cakap tentang segala hal, termasuk Rino.

“Soal Rino, dia engga coba ganggu  kamu lagi kan?” tanya Risa padaku.

Tiba-tiba angin begitu dingin menyentuh bagian kulitku, seakan mendukung suasana hati yang sedang tidak ingin membahas laki-laki itu.

“Udah lama aku engga menghubunginya,” jawabku singkat.

“Bagus deh, kamu harus fokus dengan tujuan yang ingin kamu gapai,” Risa menghentikan langkahnya dan memegang kedua pundakku, “Jadilah Kaira yang berbeda mulai saat ini. Jangan pernah dengerin omongan orang yang engga penting. Fokus pada tujuan. Kau akan bersinar pada waktunya Kaira.”

Aku menatap Risa, matanya mulai berbinar seakan ia sungguh-sungguh atas ucapannya.
“Aku titip mimpiku padamu, Kai,” tegas Risa.

“Yaa enggalah (sambil menghempaskan kedua tangan Risa), mimpimu dan mimpiku berbeda Sa. Jangan halu deh, hahaha.. udah ya aku mau balik dulu.”

Aku pergi meninggalkan Risa dan menuju tempat parkir yang sudah mulai dekat. Aku mengecek keperluan sebelum keluar dari tempat parkir, yaitu kunci motor, kartu parkir, STNK, jaket, helm, dan sarung tangan sebagai penghalang kulitku dari nakalnya sinar matahari.

Senja berganti gulita, udara hangat mengalah daripada harus bertahan dengan sejuknya malam. Hening. Disaat aku sedang menikmati keheningan malam, tiba-tiba suara pesan singkat masuk dari gawai yang sengaja aku letakan agak jauh dari tempatku berada. Ternyata pesan masuk itu dari Rino.

“Kai, bisa kita bicara besok?”

Sengaja aku tidak membalas pesan itu. Terlalu capek aku mendengar semua omongannya yang hanya menambah kebingunganku saja.

“Kai, ini penting, kita bicara besok ya.”

 Pesan kedua masuk dengan orang yang sama. Kali ini aku hanya membaca dari notifikasi pada layar gawai.

Tiba-tiba aku teringat dengan Risa, katanya ia akan mengajakku ke suatu tempat. Besok harus aku luangkan waktu untuk pergi bersamanya.

“Sa, besok jadi ngga? insyaallah besok aku ada waktu luang,” tanyaku pada Risa lewat aplikasi chatting.

Risa ceklis satu. Itu hal yang wajar bagi seorang aktivis sepertinya. Yang kutahu semenjak ia memutuskan menjadi seorang aktivis, gawai menjadi dinomerduakan olehnya. Aku dan dia memang berada dalam organisasi yang sama, tapi aku tidak setotalitas Risa. Mungkin karena aku anaknya pendiam sehingga lebih banyak pasif di organisasi, berbeda dengan Risa yang mampu berkomunikasi dengan baik.

Tak kunjung menerima balasan dari Risa, aku memutuskan untuk tidur melepas lelah seharian ini.
Aku berangkat kuliah pagi, pukul 06.30, seperti biasanya. Hari ini kelasku di lantai 4 ruang 413. Menaiki tangga satu per satu, meski sudah 2 tahun lebih merasakan naik-turun tangga setiap harinya tapi masih saja terasa capek dan lemas saat menaiki tangga, apalagi untuk menuju lantai 4.

Aku buka pintu, baru ada tiga orang yang datang. Aku duduk di bangku paling depan, kata orang tuaku kalau duduk di depan akan disayang oleh guru dan nilainya bakal bagus. Tapi kayaknya itu kurang berlaku di perkuliahan deh, dua tahun lebih aku duduk di depan nilai ujianku masih gitu-gitu aja, “apa aku kurang sholat? atau kurang ikhtiar?” gumamku.

Satu per satu bangku yang kosong terisi oleh anak kelas. Satu yang belum kulihat, Risa. “Ah, biarlah memang anaknya suka telat, paling nanti dateng.” 

Tidak terasa jam mata kuliah berlalu begitu cepat yang menunjukkan pukul 11.58, tapi aku belum juga melihat Risa datang.

Aku terus menghubungi Risa tapi tetap ceklis satu, aku telpon sedang berada diluar jangkuan. Aku panik. Karena tidak biasanya dia  hilang seperti ini, kecuali jika ia ada masalah. “Tapi apa?”

Tanpa berpikir lama, aku bergegas mencarinya ke sekretariat organisasi, barangkali ada yang bertemu dengannya. Setelah aku cek hasilnya nihil. Tak satu orang pun di sana yang melihat Risa hari ini. Aku semakin dibuat panik. Masalah apa yang sedang menimpa sahabatku itu sampai-sampai ia seperti hilang ditelan bumi.

Sambil menenangkan hati dan pikiran, aku duduk di taman. Taman itu sering disebut “taman sipil” karena berada di halaman Jurusan Teknik Sipil. Disaat aku fokus pada gawai yang terus mencoba menghubungi Risa, tiba-tiba seseorang datang.

“Kai, ngapain di sini?

“Rino?” kagetku.

“Kok kaget kayak ngeliat setan gitu,” ucapnya  sambil tertawa.

Tapi bagiku itu sama sekali tidak lucu.

“Ada yang pengen gue sampein nih Kai, tentang Risa” ungkap Rino.

Aku tertegun dan menerka-nerka apa yang ingin Rino sampaikan padaku.

“Risa, dia cuti dari PNJ. Gue baru tahu infonya semalem dari anak BEM.” tutur Rino.

Cuti? bagaimana bisa? aku selalu mewanti-wanti dia soal kompensasi, yaitu denda yang diberikan kepada mahasiswa yang jarang masuk kelas tanpa keterangan. Memang kompen dia banyak, tapi semester kemarin kompennya sudah berkurang.

Rino melanjutkan, “Dia cuti karena engga  bisa bayar UKT, semester sebelumnya dia ngajuin cicilan pembayaran tapi sampe akhir semester kemarin belum dia bayar juga. Akhirnya  dia resmi dicutikan,” Rino menambahkan, “Sebenarnya gue udah wanti-wanti sama Risa dan udah tau juga kalau dia bakal cuti. Tapi dia engga kasih izin gue buat bilang ke siapa pun termasuk lu, Kai.”

Begitu rumit. Pemikiranku mulai bercabang. Yang menjadi pemikiran utamaku kenapa Risa tidak pernah cerita hal itu padaku. Bukankah aku dan dia bersahabat.

“Kemarin itu, dia pakai baju rapih karena bertemu langsung dengan kepala bagian keuangan meminta diberikan kelonggaran agar ia bisa menyicil lagi kekurangannya, tapi prosedur tetap prosedur. Risa ngga bisa dibantu lagi.” jelas Rino.

Aku diam sejenak. Menerka serta mengaitkan setiap kejadian yang selama ini berlangsung, juga keanehan Risa kemarin.

Tiga bulan terakhir Rino mengajakku untuk bergabung di komunitas pecinta alam yang ia pimpin. Awalnya Risa tidak mempermasalahkan itu, justru ia menyuruh aku mencobanya untuk pengalaman.
Setiap hari Rino selalu mengajak, sampai aku merasa pusing dan kepala terasa sakit memikirkan pertimbangan dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ke depannya, apalagi aku sudah menjajaki semester akhir.

Rino pernah bilang, dia butuh orang sepertiku untuk mengurusi bidang sekretaris pecinta  alam. Aku ragu menerima ajakkannya karena aku pun tidak begitu ahli dalam administrasi. Sebulan ia merayu dan membujuk, akhirnya aku luluh menerima tawarannya.

Sebulan menjadi bagian dari pecinta alam, begitu banyak suka dan dukanya termasuk sikap Rino kepadaku. Rayuan dan omongan yang pernah disampaikan padaku seakan sirna dengan cepatnya. Ia lebih akrab dengan teman-teman barunya di pecinta alam. Bahkan untuk menanyakan kabarku saja engga pernah. Berdiskusi denganku saja bisa dihitung dengan jari. Sampai aku berpikir, “Keberadaanku tidak sebercanda itu.”

Ia yang menyuruhku untuk bergabung, tetapi keberadaanku saja mungkin sudah tidak berarti  baginya. Aku memang pendiam, bisa jadi  bukan teman diskusi yang asyik. Tapi bisakah sedikit saja kau menaruh perhatian pada anggotamu, termasuk aku. Bukan karena aku ingin diperhatikan lebih darimu, bukan itu. Aku hanya ingin kau peka. Buat apa bicara soal kita dan masa depan, jika tak ada rasa dan kepekaaan di dalamnya.

Bahkan ia pun tak pernah tau rasanya melepaskan tanpa kerelaan. Apakah harus terus begini? menjauh untuk mendekat. Tapi sampai kapan? Kau bisa menipu logikaku, tetapi tidak hatiku. Hatiku terlalu sensitif bilamana menemui orang-orang sepertimu.

Sejak sebulan itu, aku jarang datang ke sekretariat pacinta alam. Dan saat itu juga Risa menyarankan aku untuk tidak mendekati Rino. Apakah itu strategi Risa agar aku tidak tahu informasi tentang permasalahannya? ia pula yang menyuruhku untuk fokus pada perkuliahan, mengingat ini sudah semester akhir.

Aku menatap Rino dengan mata yang tidak kuat lagi membendung air di dalamnya. Satu sisi aku sedang kesal dengannya, tapi disisi lain ia memberikan informasi penting yang dapat membuka semua teka-teki itu.

“Sekarang, di mana Risa?” tanyaku penuh emosional.

“Hei, jangan nangis dong. Gue dapet info dari temen kosnya kalau dia udah pindah kemarin sore. Pindah ke mananya dia engga tau.” jelas Rino.

Aku terdiam lagi sambil menghapus air mata, lalu pergi meninggalkan Rino seorang diri. Sampai di tempat parkir, aku kembali tersedu-sedu mengingat pesan Risa padaku kemarin, agar aku juga mampu mewujudkan mimpinya.”

Senja yang kelam menjadi penutup lembaran kisah antara aku dan Risa. Cerita yang pernah diukir semoga akan selalu membekas. Meski aku tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa, jadi teka-teki ini belum selesai sampai kamu yang menjelaskan sendiri padaku.

Risa, terima kasih telah menjadi sahabat yang baik untukku, yang bawel untuk kebaikanku, dan selalu membantu disaat aku sedang kesulitan. Terima kasih atas dua tahun belakang ini. Semoga aku dan kamu bisa berjumpa kembali, mengukir kisah baru lagi, tapi kali ini harus berjanji, kelak kamu tak akan menghilang kembali maupun lagi.     
 



   



Posting Komentar

0 Komentar