Sumber foto : Renungan Islam
Sebentar
lagi libur hari raya akan selesai. Tepatnya, 10 Juni nanti semua mahasiswa akan
kembali dengan aktivitas yang membawanya pada rutinitas. Hmmm.. terkadang aku
bertanya dengan diri sendiri, “Liburan kali ini mengisahkan apa Nit?” sebenarnya
liburan kali ini dan hari raya Idulfitri tahun ini sangat jauh berbeda.
Mungkin
benar yang dikatakan Fiersa Besari pada video youtube-nya yang berjudul “Lebaran
Kali Ini”. Banyak manusia-manusia baru, mungil, yang hadir dalam himpunan
keluarga menciptakan kehangatan tersendiri dalam canda dan tawa, tetapi
wajah-wajah lama yang kini mulai menghilang mengisahkan kenangan tersendiri
dalam kalbu imaji.
Lebaran
kali ini membuatku tersadar akan pentingnya tali persaudaraan antarkeluarga,
yang sedikit demi sedikit kehadirannya tanpa terasa mulai memudar.
Teringat
apik kenangan dahulu saat semuanya masih lengkap termasuk adanya kakek dan
nenek. Bahagianya aku setiap lebaran tiba berkumpul di rumah nenek merayakan
takbiran sambil menyalakan kembang api bersama saudara lainnya. Kakek dan nenek
melihat kami yang sedang bermain kembang api, mereka selalu mengembangkan senyum dan sesekali tertawa melihat tingkah kami
yang masih bocah.
Ya..
saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Anak polos, yang belum
mengerti banyak hal, apalagi soal kekeluargaan.
Lebaran
kali ini aku memang merindukan sosok kakek dan nenek yang selalu menjadi
penengah saat ada keributan dalam keluarga. Aku rindu saat mengobrol dengan
tante, paman, dan sepupu jauh. Aku juga rindu dengan tradisi yang sudah lama
hilang dari keluarga kami ialah saling berkunjung ke rumah saudara. Sungguh,
ingin rasanya kembali saat semua merasa baik-baik saja dan saling tegur sapa.
Aku
rindu dengan keberadaan keluarga harmonis seperti dulu. Dan aku rindu pelukan
kakek dan nenek yang setiap tahun selalu aku rasakan kehangatannya. Tata
rindu Kek, Nek…
Aku
ingin seperti keluarga besar yang lain, berkumpul dalam satu tempat dan saling
bersenda gurau, saling menanyakan kabar, dan saling mendoakan. Aku ingin
wajahku ada dalam bingkai foto keluaraga besar tersebut sambil mengembangkan
senyum. Tapi… sudahlah.
Seiring
berjalannya waktu aku mensyukuri yang telah Allah berikan padaku, termasuk
nikmat untuk mensyukuri keadaan saat ini. Walau keluarga besarku tidak seperti
keluarga besar kalian, aku tetap bersyukur karena masih diberikan kesempatan
untuk berjumpa dengan mereka satu per satu. Tak apa, aku tetap senang karena
nikmat bersilatuhrahmi.
Dan
alhamdulillah, aku masih diberi kesadaran untuk memperbaiki jalinan silaturahmi
antarkeluarga ini. Semoga aku, kamu, keluarga besarku, dan keluarga besarmu
selalu dalam perlindungan-Nya serta diberikan kesempatan untuk merasakan
berkumpul kembali di Lebaran tahun depan. Aamiin.
0 Komentar