Lebaran Itu Tergantung Niatnya

Sumber Foto : Times Indonesia

Lebaran kali ini hampir sama dengan lebaran tahun lalu. Suasana yang sama tapi kini lingkungan yang berbeda. Lebaran di daerah Jakarta dan Depok tak terlalu banyak perbedaannya.


Waktu di Leuwinanggung, Depok –rumah yang lama—setelah menunaikan ibadah sholat Idulfitri warga Rt02/Rw04 berkumpul di suatu tempat yang agak luas dan dekat dengan kuburan yang bisa dibilang kuburan keluarga. Kuburannya ngga begitu banyak jumlahnya memang khusus untuk makam keluarga tertentu saja yang biasanya milik warga asli sana.

Di tempat yang agak luas itu kami bersalam-salaman dan saling memafkan sesuai dengan tradisi lebaran paada umumnya. Bagi warga yang belum sempat berkumpul di sana, biasanya keliling  mendatangi rumah warga satu per satu.

Kalau di Jakarta tradisi keliling mendatangi rumah warga satu per satu kiranya sudah mulai ditinggalkan --  khususnya di daerah yang aku tinggali saat ini Cilangkap, Jakarta Timur. Karena setelah bersalam-salaman di mushola, para warga pada bergegas ke rumah sanaksaudara masing-masing.

Tapi ngga semua daerah di Jakarta seperti itu juga karena di daerah Cipinang Muara, tradisi ini masih dijumpai tepat setiap 1 syawal.

Namun, kali ini aku ngga membahas tradisi itu lebih dalam karena hal tersebut sangatlah lumrah dilakukan dan menjadi ciri khas warga muslim di Indonesia. Nah,yang menjadi permbahasan aku kali ini adalah niat bersilaturahmi tersebut.

Nuansa lebaran pasti identik dengan bagi-bagi uang yang biasanya diperuntukkan untuk anak-anak yang telah berhasil berpuasa di bulan Ramadan. Uang tersebut diberikan dari orang dewasa yang telah berpenghasilan.  

Walaupun uang tersebut dijadikan hadiah untuk  anak berusia dibawah 20 tahun, tapi tidak menutup kemungkinan anak yang berusia remaja –menjelang dewasa-- pun mendapatkannya –kayak aku gini wkwkwk. Siapa sih yang ngga seneng dapet uang secara tiba-tiba terus dapetnya banyak lagi, kan lumayan buat uang jajan culiah wkwk.

Oke balik lagi ke topik pembahasan.

Kita harus berhati-hati dengan pembagian uang secara gratis tersebut karena bisa mempengaruhi niat baik dalam bersilaturahmi. Bisa jadi ketika berkunjung ke suatu rumah niatnya bukan lagi karena bersilaturahmi, tetapi niatnya karena ingin mendapatkan uang gratis. Astagfirullah… :( 

 Niat sangatlah penting terhadap apa yang akan kita lakukan, seperti hadist yang berbunyi  “Innamal A’malu Binniyat” yang artinya “sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat”. Segala hal yang kita lakukan hasilnya sesuai dengan niatnya, oleh karena itu berniatlah untuk mendapatkan kebaikan, bukan pujian atau uang, tapi ridha dari Sang Maha Pencipta.

Semoga kita bukan termasuk golongan orang yang menjadikan Idulfitri sebagai ajang untuk memperkaya diri dengan mengharapkan pembagian uang gratis. Tapi pahami dan niatkan makna idulfitri ini sebagai kesempatan untuk saling bersilatuhrahmi dan memaafkan kepada sanaksaudara, sahabat, tetangga, rekan kerja, teman kuliah, dan mantan wkwk.

Taqabbalallahu minnaa wa minkum
(Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)


Posting Komentar

0 Komentar