Tiba-tiba menjadi asing saat keramaian datang. Keasingan yang tidak pernah direncanakan yang cenderung datang tanpa perizinan.
Aku yang saat itu datang dengan wajah dan hati penuh dengan kebahagiaan serta suka cita, tiba-tiba diam dengan seribu bahasa. Bukan aku tidak menghargai acara yang sedang berlangsung, tapi keadaan yang menyeleksi keasingan itu.
Merasa asing atau diasingkan memang tidak enak sama sekali, keberadaannya ada tapi seakan tak ada. Raga ada tapi jiwa seakan menolak untuk berada. Sempat bingung dengan keadaan diri yang seperti itu adanya. Karena kejadiannya tidak hanya sekali ini saja, tapi sudah beberapa kali bahkan terbilang sering.
Saat itu aku duduk di pojok rumah seorang teman sambil mengikir kuku dengan kunci motor, sedangkan teman-teman yang lain asyik mengobrol dan bercanda ria sambil berswafoto. Sesekali kulihat keadaan sekitar, aku mulai ngeblank, kepala mulai terasa sakit. Mungkin efek dari aktivitas yang menguras banyak tenaga hari itu.
Aku mengikir kuku lagi. Sampai ada teman yang menyadari kondisiku itu dan bertanya mengenai keadaanku. Aku balas dengan senyum dan meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
Memang aku baik-baik saja, tapi saat kondisi itu aku sedang tidak baik-baik saja. Tapi hanya senyumanlah yang meyakinkanku juga bahwa aku baik-baik saja.
Manusia terkadang begitu, bisa melihat, bisa mendengar, bisa merasa, tetapi sulit memahami. “Ah gapeka. Dasar aku!” ketusku dalam diam ditambah dengan suara heningnya malam seakan mendukung apa yang ku katakan itu.
0 Komentar