Pestanya Masih Belum Menyeluruh




Hihiw.. tepat hari ini, di tanggal 17 April pemilihan capres-cawapres dan juga calon badan legislatif. Hiruk pikuk beberapa
bulan belakang ini akhirnya terlunaskan dengan pencoblosan. Yang tadinya dalam satu rumah selalu berdebat, kini akur di tempat pemilihan suara. Bahkan sampai memposting foto keluarga selepas mencoblos. Pemandangan yang indah bukan?

Sebenarnya, memang seperti itu yang harus tercerminkan dari awal; berbeda pilihan tapi tetap akur.

*
Pagi ini, aku kembali ke kampus diantar Ayah untuk mengambil motorku yang sengaja ditinggal di sana karena kuncinya hilang (bisa baca ditulisanku sebelumnya).

Sepanjang perjalanan aku tengok kanan dan kiri semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, padahal hari ini pesta demokrasi. “Ah, kok ngga berasa ya pestanya. Mau ada pesta, nga ada pesta, kayaknya sama aja. Yang dagang yaa dagang, yang ke pasar yaa ke pasar, yang nganggur yaa nganggur,” ucapku dalam hati.

Pesta? tapi kok ngga ramai, gerutuku. Sesampainya di kampus, aku langsung mengambil motorku dan segera pulang mempersiapkan diri mengambil andil hak pilih. Maklumlah, pemilih pemula.

*
Aku, Mamah, dan Ayah menunggu di TPS 004, Cilangkap. Selagi menunggu, aku memperhatikan para calon pemilih yang rata-rata anak milenial, tapi lumayan banyak juga dari kalangan lansia. Itu membuatku berpikir, “Dengan surat yang banyak ditambah nama-nama calon yang ngga kalah banyak, bisakah membuat seseorang memilih berdasarkan kualitas, atau jangan-jangan hanya berdasarkan tung nang tung nang.”

Ternyata benar saja, rata-rata dari mereka yang memilih hanya berdasarkan feelling bukan dari segi kualitas maupun program yang dicanangkannya. Miris. Di saat lagi pesta seperti ini, masih ada saja yang belum tau siapa yang menyelenggarakan pesta itu dan siapa saja sosok yang ikut dalam pesta demokrasi tersebut. Tentunya para lansia itu tidak bisa disalahkan. Hanya saja kurangnya sosialisi yang dilakukan kepada masyakat khususnya para lansia. Kalau seperti ini adanya, apakah masih bisa dikatakan sebagai pesta demokrasi?

Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya namaku dipanggil. Mulailah aku melangkahkan kaki dengan sigap serta berikrar pada diri sendiri, “Siapapun yang terpilih nanti, semoga menjadi pemimpin yang amanah. Teruntuk diriku, tetaplah menjadi warga negara yang baik, taat pada peraturan yang berlaku.”

Berjalanlah aku ke tempat bilik suara. Dibukalah satu persatu lembar surat suara. Bismillah, dengan yakin aku mecoblos pilihan yang insyaallah tepat. Pengalaman yang luar biasa dan juga pengalaman pertama mencoblos di perayaan pesta demokrasi ini.

Intinya, begitulah dalam berdemokrasi. Harus banyak sosialisasi agar pemilihnya masuk kategori temumpuni untuk memilih. Karena ini bukan sekadar main-main, tapi sebagai penentu Indonesia selama 5 tahun ke depan.

Posting Komentar

0 Komentar