
Kenapa sih gue harus kuliah di
sini? Kenapa sih yang gue kerjain tuh seakan ngga berarti apa-apa? Gue ngga
guna banget jadi orang! Gue kayak ngga dianggap sama dia. Allah itu ngga adil!
Pertanyaan – pertanyaan di atas mungkin hampir setiap
hari didengar dari orang-orang di sekeliling kita. Mereka berkata seperti itu
atas dasar kekecewaan yang mendalam terhadap seseorang maupun suatu kejadian
yang ngga seharusnya terjadi. Puncaknya, mereka akan bilang bahwa Allah itu
ngga adil.
Coba deh direnungkan kembali sebelum menuduh Allah dengan
pernyataan yang malah merugikan kita. Seenggak adil bagaimanakah Allah sama
kita? kalau sampai saat ini Ia masih memberikan kesempatan kita untuk menghirup
udaranya tanpa alat bantuan?
Sedikit cerita, saat itu aku dan teman-teman berencana
untuk belajar bareng di rumah. Awalnya semua berjalan dengan baik-baik saja,
tiba-tiba salah satu teman datang dan membujuk kami untuk belajar di restoran saja.
Akhirnya kita termakan oleh rayuannya. Saat itu aku ragu,
antara ikut dan ngga ikut. Bukan masalah kendaraan, bukan pula masalah gengsian,
tetapi ini persoalan perekonomian. Yaps, uang yang aku pegang ngga lebih dari
10 ribu, sedangkan untuk makan di sana aja bisa menghabiskan uang 20 ribu-an.
Aku pun enggan meminta kepada orang tua karena sudah terlalu banyak meminta,
tapi sedikit sekali memberi.
Lalu, aku niatkan dalam hati kalau ini bukan masalah
makan ngga makan di sana, tetapi soal belajar kelompoknya. Yasudahlah, akhirnya
aku ikut. Walaupun ngga ikut makan bareng mereka, asalkan aku bisa belajar kelompok bersama mereka.
Sempat merasa minder dengan mereka karena seakan-akan
keberadaanku meminta untuk dikasihani. Padahal nggak. Aku percaya Allah punya
maksud lain di balik itu semua. Ternyata benar saja, uang 10 ribu yang ada di
saku, bisa aku gunakan untuk membeli perlengkapan alat tulis buat persiapan
ujian.
Terus apa hubungannya?
Kalau saja saat itu aku sengaja membeli minuman di
restoran tersebut otomatis uang 10 ribu tersebut akan lenyap dengan seketika
tanpa bekas. Lalu, aku membeli perlengkapan tulis bagaimana? Sedangkan saat itu
keluarga lagi kirisis moneter.
Semenjak kejadian itu pula, beberapa temanku sering memberikan
hadiah dan begitu sebaliknya. Teringat sebuah hadits, “Hendaklah kalian saling
memberi hadiah, niscaya kalian akan saling menerima.”
Allah tidak akan menempatkan kita pada suatu keadaan
tanpa maksud dan tujuan tertentu. Aku percaya bahwa setiap manusia merupakan
garis kehidupan bagi orang lain. Jadi, jangan pernah merasa apa yang telah kita
lakukan ngga berguna sama sekali. Buang pikiran itu jauh-jauh. Sebab, sekecil
apapun tindakan yang kita lakukan pasti akan berdampak pada kehidupan orang
lain.
Dan ingatlah Allah selalu bersama kita, di saat kita
sedang susah pun Ia tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Lantas kalau
sudah begini, masihkah rasa syukur tertinggal dari ucapan sehari-hari?
0 Komentar