Perjuanganmu Masih Terekam Baik

                                           Sumber foto : Pinterest

Belakangan ini aku merasa menjadi lebih pendiam dari biasanya. Mungkin karena aku sudah mulai asing dengan keadaan sekitar yang sering menuntutku untuk
bersikap bukan seperti diriku. Hal ini
tentunya berdampak pada keseharian yang jatuhnya seperti rutinitas saja, tanpa makna yang terkandung.

Diam, sebenarnya bukanlah tipeku karena berinteraksi dan menjalin komunikasi dengan orang lain secara langsung, itulah hobiku. Namun, pada nyatanya teman-temanku dari SD sampai kuliah pun bisa dihitung dengan jari. Bukan karena sikap aku yang tertutup, tapi aku memang kurang bisa menyesuaikan diri dengan mudah pada orang lain.

Semua memang berjalan begitu cepat, aku merasa ilmu yang didapat di perkuliahan belumlah ada apa-apanya. Semakin ke sini, aku jadi teringat kembali, tentang tujuanku berkuliah, yakni untuk meneruskan pendidikan yang semata-mata memperbaiki kehidupan keluarga.

Ketika di dalam hati ada niat untuk meneruskan pendidikan, nyatanya tidak segampang yang terlihat. Semua butuh perjuangan. Masih terekam dengan baik bagaimana lelahnya Ayah mengantar aku bulak-balik Tapos-Citayam mengurusi berkas-berkas agar aku keterima di Politeknik Negeri Jakarta.

Perjuangan lainnya, aku pernah punya pengalaman jalan kaki sekitar 3 km. Itu terjadi karena tidak adanya angkot yang searah jalan pulang. Saat itu kondisinya setelah selesai mencetak berkas-berkas yang dijadikan syarat pendaftaran beasiswa bidikmisi di Politeknik Negeri Jakarta.

Bisa saja sih aku pesan grab, tapi aku pikir 2x. Kalau berjalan hanya capek yang aku dapat, tapi kalao naik grab 12 ribu uangku melayang. Bukan apa-apa. Uang 12 ribu kan juga bisa dipakai untuk keperluan yang lain.

Kalau mengingat-ingat kembali perjuangan saat masuk kuliah, aku jadi teringat perjuangan kedua orang tuaku. Dari mulai meminjam uang untuk tes anti narkoba sampai harus merasa lelah mengantar anaknya ini bulak-balik Tapos- Kelurahan Citayam.

Di situ aku merasa, ngga ada yang bisa aku berikan kepada orang tuaku selain doa kesehatan dan lolos masuk politeknik ini.

**

Setiap hari aku selalu melihat handphone jadul, yang kalo mau dinyalain harus di pukul-pukul dulu dengan tangan.

Perasaan deg-degan pun muncul karena pengumumman lolos atau tidaknya akan diumumkan jam 5 sore nanti. Cukup lama menunggu. Saat waktunya tiba, ternyata terjadi kesalahan dari servernya sehingga aku baru dapat melihat pengumummannya besok pagi.

Bismilah… aku klik. Dan alhamdulilah aku lolos masuk menjadi mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta.

Kejadian yang ngga pernah aku lupain sampe sekarang yaitu melihat kedua orang tua menangis bahagia saat tau anaknya masuk perkuliahan dengan beasiswa. Mamah dan Ayah peluk aku dengan erat, mencium pipi kanan dan kiriku. “Ayah bangga sama Kakak,” pelukan itu masih berasa dan akan selalu membekas.

Teruntuk Ayah,

Ayah kau selalu ada untukku, disaat keadaan sulit kaulah yang menjadi pahlawan hidupku. Aku selalu teringat saat kau pertama kali mengajariku naik sepeda, lalu aku jatuh dan kaulah yang membersihkan lukaku dengan hati-hati.

Waktu kecil aku memang susah tidur, lalu kau memelukku dengan menyanyikan lagu sholawat. Dan ketika anakmu ini diejek, kaulah yang datang pertama kali dan memarahi mereka yang mengejekku.

Ayahku sayang,

Kini kau sudah tak lagi muda seperti dulu, tubuhmu sudah mulai merasa sakit di sana dan di sini. Walau begitu, kau masih bekerja untuk mmenuhi nafkah keluarga. Kau tidak malu bekerja sebagai pembersih tanaman di salah satu taman di Jakarta.

Aku sebagai anak pertamamu sangat bangga mempunyai ayah sepertimu. Aku ngga malu. Mau seperti apa pekerjaanmu, asal itu halal. Aku akan selalu mendukungmu.

Salam cinta,
Anita Rahim

Posting Komentar

0 Komentar