Secuil Kisah SD dengan Teman Spesial

Sumber Foto : Majalah Kartini

Malam ini, di kesunyian tanpa tepi, tiba-tiba teringat kembali memori 13 tahun silam. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Di sana aku punya banyak teman yaitu Lili, Nanita, Ayu, Fitri, dan teman spesial bernama Fajar.


**

Hari pertama masuk sekolah SD dengan baju putih dan merah lengkap dengan dasi yang berwarna merah juga. Awalnya takut untuk menyapa orang-orang yang ada di dalam kelas itu karena aku berpikir bahwa mereka enggan berkenalan denganku.

Satu per satu anak murid maju ke depan kelas untuk membaca ejaan kata, seperti INI BUDI, INI IBU BUDI… hingga  akhirnya tibalah giliran aku membaca. Kata pertama masih aku lewati dengan baik, tetapi kata-kata selanjutnya lidahku seakan berkelok yang membuatku susah membaca. Tapi syukurlah guruku saat itu memaklumi dengan membantuku membacanya.

Di jendela kelas, aku melihat mata yang memandang dengan penuh cemas termasuk mata Ibuku. Ia beserta Ibu-Ibu lainnya mengawasi anak mereka yang baru saja masuk sekolah di hari pertamanya itu. Tak jarang pula orang tua mereka mengawasi sambil melontarkan kemarahan karena anaknya blm bisa membaca.

**

Besoknya aku mulai memberanikan diri untuk kenalan dengan teman-teman kelas. Lili, gadis cantik yang memiliki rambut gelombang disertai bulu mata nan lentik menjadi teman pertamaku di kelas itu. Kalau dilihat dari luar ia begitu feminim, tapi kalau sudah mengenalnya gadis itu begitu tomboy.

Setiap pagi, aku selalu diajaknya untuk bermain sejenak di teras depan kelas. Permainannya pun beragam, seperti lari-larian, jalan di atas batu yang panjang, sampai main kucing-kucingan. Entah kenapa, bermain dengannya sangatlah menyenangkan. (Oh Lili… di mana kamu berada sekarang?)

Temanku selanjutnya bernama Nanita, Ayu, dan Fitri, mereka selalu brtiga. Wajar karena mereka satu TK yang sama. Nanita, gadis kecil yang satu ini mempunyai rambut keriting panjang, dan selalu menjadi juara kelas.

Ayu, wajahnya mirip dengan orang China dengan mata yang sipit dan berambut sebahu, orangnya ngga pernah marah meski sering kali dibercandain. Terakhir, Fitri, anaknya ceria dan memiliki senyum yang khas.

Satu lagi teman yang spesial yaitu Fajar. Ia menjadi teman yang spesial karena semangatnya untuk terus bersekolah, walau seminggu sekali ia harus cuci darah. Memang, begitu malangnya nasib anak laki-laki itu.

Orang tuanya hanya bekerja sebagai pemulung, yang penghasilannya tidak tetap. Tapi aku bangga dengan Fajar dan Ibunya yang selalu mengantarkannya ke sekolah.

Mereka tetap bertahan dalam keterbatasan untuk mencapai mimpi yang kadang menjadi olokan para tetangganya.

Mulia sekali cita-cita Ibunya yaitu menyekolahkan Fajar hingga lulus sekolah dasar. Cita-cita seperti ini memang dimiliki oleh semua Ibu, tapi adakah yang setabah dirinya yang mengurusi buah hati setiap minggu untuk cuci darah.

Fajar, kau hebat, kau teman spesial bagiku. Jarang sepertinya aku meninggalkanmu di kelas, selalu aku memperhatikanmu, bukan apa-apa. Ibumu sendiri yang minta aku untuk menjagamu. Walau penjagaan itu berakhir saat aku memutuskan pindah sekolah.

Akan selalu kuingat semangat belajarmu di tengah keterbatasan yang melanda dirimu.

Posting Komentar

0 Komentar